Showing posts with label Bahasa Jepang. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Jepang. Show all posts

Friday, June 13, 2014

Ungkapan "akan" dan tidak "akan" dalam bahasa jepang (Pelajaran 14)

Ungkapan "akan" dan tidak "akan" dalam bahasa jepang (Pelajaran 14)

Ungkapan "akan" dan "tidak akan" dalam bahasa jepang - Kata - kata yang mendapat tambahan arti "akan" dan "tidak akan" ini biasa terjadi pada kata kerja. Dalam bahasa jepang, kata kerja terdiri atas 4 jenis yaitu kata kerja akhiran U, IRU, ERU, dan SURU. Untuk membentuk kata kerja yang berakhiran "U" tersebut agar mengandung arti "akan" maka ganti akhiran "U" dengan "O". Berikut uraian lengkap beserta contohnya :



Penambahan O pada kata kerja akhiran U.

  • Kaku berubah menjadi kako
  • Yuku berubah menjadi yuko
  • Hataraku berubah menjadi hatarako
  • Asobu berubah menjadi asobo
Sedangkan untuk akhiran "IRU, ERU, dan SURU" agar kata kerja tersebut mengandung arti "akan" maka gunakan bentuk 2 dari kata kerja tersebut dan tambahkan akhiranya dengan "YO". Penjelasan mengenai bentuk kata kerja bisa dilihat pada posting sebelumnya disini. Berikut contohnya :

Penambahan YO pada kata kerja akhiran IRU.


  • Miru bentuk keduanya mi, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi miyo = akan melihat
  • Niru bentuk keduanya ni, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi niyo = akan merebus
  • Ochiru bentuk keduanya ochi, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi ochiyo = akan jatuh

Penambahan YO pada kata kerja akhiran ERU.  

  • Taberu bentuk keduanya tabe, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi tabeyo = akan makan
  • Akeru bentuk keduanya ake, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi akeyo = akan membuka
  • Oshieru bentuk keduanya oshie, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi oshieyo = akan mengajar
  • Shimeru bentuk keduanya shime, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi shimeyo = akan menutup

Penambahan YO pada kata kerja akhiran SURU.

  • Chumon suru bentuk keduanya chumon shi, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi chumon shiyo = akan memesan
  • Setsume suru bentuk keduanya setsume shi, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi setsume shiyo = akan menerangkan
  • Benkyo suru bentuk keduanya benkyo shi, dan bila ditambah dengan YO, maka bentuknya berubah menjadi benkyo shiyo = akan mengajar

Dan berikutnya yaitu cara membentuk kata kerja tersebut agar mengandung arti "Tidak akan" atau kebalikan dari yang diatas. Untuk kata kerja yang berakhiran "U" caranya, gunakan bentuk asal dari kata kerja tersebut lalu tambahkan dengan akhiran "MAI". Sedangkan untuk kata kerja akhiran "IRU, ERU, dan SURU" caranya, gunakan bentuk 2 dari kata kerja tersebut dan tambahkan dengan akhiran "MAI". Berikut Contohnya :

Penambahan MAI pada kata kerja akhiran U.

  • Nomu + mai, maka bentuknya berubah menjadi nomumai = tidak akan minum
  • Yobu + mai, maka bentuknya berubah menjadi yobumai = tidak akan memanggil
  • Hataraku + mai, maka bentuknya berubah menjadi hatarakumai = tidak akan bekerja
  • Yomu + mai, maka bentuknya berubah menjadi yomumai = tidak akan membaca

Penambahan MAI pada kata kerja akhiran IRU, ERU, dan SURU.

  • Taberu bentuk 2 nya tabe, dan bila ditambah dengan akhiran MAI, maka bentuknya akan menjadi tabemai = tidak akan makan.
  • Kiru bentuk 2 nya ki, dan bila ditambah dengan akhiran MAI, maka bentuknya akan menjadi kimai = tidak akan memakai.
  • Miru bentuk 2 nya  mi, dan bila ditambah dengan akhiran MAI, maka bentuknya akan menjadi mimai = tidak akan melihat.
  • Niru bentuk 2 nya ni, dan bila ditambah dengan akhiran MAI, maka bentuknya akan menjadi nimai = tidak akan merebus.
  • Suru bentuk 2 nya shi, dan bila ditambah dengan akhiran MAI, maka bentuknya akan menjadi shimai = tidak akan melakukan.
  • Iru bentuk 2 nya i, dan bila ditambah dengan akhiran MAI, maka bentuknya akan menjadi imai = tidak akan ada.
Baca selengkapnya

Friday, May 9, 2014

Ungkapan "ingin" dan "tidak ingin" dalam bahasa jepang (Pelajaran 13)

Ungkapan "ingin" dan "tidak ingin" dalam bahasa jepang (Pelajaran 13)

Ungkapan "ingin" dan "tidak ingin" dalam bahasa jepang - Pada tutorial kali ini saya akan jelaskan bagaimana cara menyatakan keinginan dalam bahasa jepang atau membentuk kata - kata seperti ingin makan, ingin minum, ingin membaca, dan ingin membeli. Jika diperhatikan kata makan, minum, membaca, dan membeli adalah kata kerja. Namun kira - kira bagaimana ya cara membuat kata kerja tersebut mengandung kata "ingin atau mau" dalam bahasa jepang? Jawabanya adalah dengan menambahkan kata "TAI" diakhir kata kerja bahasa jepang tersebut. Kata kerja yang digabungkan dengan kata "TAI" ini bukanlah kata kerja bentuk awal, melainkan kata kerja bentuk 2 dan dibagian akhirnya ditambahkan kata "desu".  Untuk lebih jelasnya silahkan perhatikan contoh berikut.


Bentuk Positif Dari Kata "TAI".

  • Nomu = minum
  • Nomitai desu = ingin minum
  • Anata wa kohii wo nimitai desu ka? Apakah anda ingin minum kopi?

  • Yomu = membaca
  • Yomitai = ingin membaca
  • Watashi wa shinbun wo yomitai desu. Saya ingin membaca koran.

  • Taberu = makan
  • Tabetai = ingin makan
  • Anohito wa gohan wo tabetai desu. Orang itu ingin makan nasi.

  • Kaeru = pulang
  • Kaetai = ingin pulang
  • Watashi wa kaetai desu. Saya ingin pulang.

Bentuk Negatif Dari Kata "TAI".

Untuk menjadikan kata kerja dalam bentuk "TAI" tersebut menjadi bentuk negatif, Ganti huruf "i" pada kata "TAI" menjadi "KU" kemudian tambahkan dengan kata "nai desu" di akhirnya. Berikut contohnya.

  • Yomitai = ingin membaca
  • Yomitaku nai desu = tidak ingin membaca
  • Anata wa ano hon wo yomitaku nai desu ka. Apakah kamu tidak ingin membaca buku itu.

  • Tabetai = ingin makan
  • Tabetaku nai desu = tidak ingin makan
  • Watashi wa kono kashi wo tabetaku nai desu.
Perlu diingat bahwa penambahan kata "TAI" tersebut hanya berlaku untuk orang pertama dan kedua. Jika ingin menggunakan kata "TAI" tersebut pada orang ketiga, maka tambahkan kata "TO IIMASU atau TO MOSHIMASU" di akhirnya. Kata TO IIMASU memiliki arti berkata, sedangkan TO MOSHIMASU berarti "katanya". Untuk lebih jelasnya silahkan perhatikan contoh berikut ini.
  • Nobita san wa watashi no jidosha wo kaitai to iimasu. Tuan nobita berkata ingin membeli mobil saya.
  • Nobita san wa watashi no jidosha wo kaitai to moshimasu. Tuan nobita katanya ingin membeli mobil saya.

  • Anohito wa Mario san to nihon e ikitai to imasu. Dia berkata ingin pergi ke jepang bersama tuan Mario.
  • Anohito wa Mario san to nihon e ikitai to moshimasu. Dia katanya ingin pergi ke jepang bersama tuan Mario.
Selamat bereksperimen !
Baca selengkapnya

Monday, May 5, 2014

Fungsi penambahan TE pada kata kerja bahasa jepang (Pelajaran 12)

Fungsi penambahan akhiran TE pada kata kerja bahasa jepang - Pada postingan sebelumnya kita sudah bahas mengenai fungsi penambahan kata "TA" pada kata kerja bahasa jepang dan sekarang pada pelajaran ke 12 belajar bahasa jepang ini, kita akan bahas mengenai fungsi dan penerapan kata "TE" pada kata kerja bahasa jepang. Penambahan "TE" pada kerja menyatakan bahwa suatu perbuatan itu sedang dilakukan atau sedang berlaku. Penggabungan kata kerja dengan kata "TE" ini sama dengan kata "TA" sebelumnya, yaitu dengan mengambil bentuk kedua dari kata kerja dan ditambah dengan akhiran "TE" tersebut. Atau bisa juga dengan cara menambahkan akhiran "TE" tersebut dengan bentuk kedua dari kata kerja yang sudah ditambah dengan kata masu. Perhatikan contoh berikut.


Fungsi penambahan TE pada kata kerja bahasa jepang (Pelajaran 12)

Berikut aturan untuk membentuk kata kerja TE menjadi bentuk negatif.
  • Bentuk 3 + nai >> Bentuk 3 + naide atau nakute
  • Bentuk 2 + masen >> Bentuk 3 + zuni
Contoh :
  • Yomu >> Yoma nai >> Yoma naide atau Yoma nakute
  • Kaku >> Kaka nai >> Kaka naide atau Kaka nakute
  • Nomu >> Noma nai >> Noma naide atau Noma nakute
  • Taberu >> Tabe nai >> Tabe naide atau Tabe nakute
  • Yomu >> Yomi masen >> Yoma zuni
  • Kaku >> Kaki masen >> kaka zuni
  • Nomu >> Nomi masen >> Noma zuni
  • Taberu >> Tabe masen >> Tabe zuni
Pemakaian kata kerja TE dalam kalimat haruslah diikuti oleh kata iru, imasu, dan orimasu. Berikut screen shoot aturan penambahannya.

Fungsi penambahan TE pada kata kerja bahasa jepang (Pelajaran 12)

Berikut contoh kalimat.
  • Anata wa nani wo yonde iru ka? Kamu sedang membaca apa?
  • Anata wa nani wo yonde imasu ka? Anda sedang membaca apa?
  • Anata wa nani wo yonde orimasu ka? Tuan sedang membaca apa?
  • Watashi wa shinbun wo yonde iru. Saya sedang membaca surat kabar.
  • Watashi wa shinbun wo yonde imasu. Saya sedang membaca surat kabar.
  • Watashi wa shinbun wo yonde orimasu. Saya sedang membaca surat kabar.
  • Anata wa benkyo shite iru ka? Apakah kamu sedang belajar?
  • Hai, shite iru. Ya, benar.
  • Iie, Watashi wa benkyo shite imsen. Tidak, saya sedang tidak belajar.
  • Watashi wa ocha wo nonde imasu. Saya sedang minum teh.
  • Watashi tachi wa gohan wo tabete iru. Kami sedang makan nasi.
  • Anata wa doko ni iru ka? Kamu ada dimana?
  • Watashi wa heya ni iru. Saya ada di kamar. 
Baca selengkapnya

Fungsi penambahan TA pada kata kerja bahasa jepang (Pelajaran 11)

Fungsi penambahan akhiran TA pada kata kerja bahasa jepang - Pada tutorial belajar bahasa jepang kali ini topik yang akan kita angkat yaitu penambahan kata TA diakhir kata kerja. Penambahan TA pada kata kerja menyatakan bahwa sesuatu tersebut sudah terjadi, sudah dilakukan, atau sudah berlaku. Misalnya oshiemasu yang artinya mengajar. Jika ditambah dengan akhiran TA maka akan menjadi oshiemashita yang artinya sudah mengajar. Penambahan bentuk TA ini bisa dilakukan pada kata kerja bentuk 2 yang belum ditambahkan dengan kata masu ataupun yang sudah ditambahkan dengan kata masu tersebut. Namun ada beberapa kata kerja yang perubahanya menyimpang dari aturan biasanya. Kata kerja tersebut yaitu kata kerja yang akhir suku katanya mengandung kata gu, ku, tsu, u, ru, bu, nu, dan mu. Perhatikan contoh berikut.


Fungsi penambahan TA pada kata kerja bahasa jepang (Pelajaran 11)

Ket :
  • Kata - kata yang berakhiran "nu dan mu" bila ditambah dengan TA akhiranya akan berubah menjadi "nda". 
  • Kata - kata yang berakhiran "u dan tsu" bila ditambah dengan TA akhiranya akan berubah menjadi "ta". 
  • Kata yang berakhiran "ku" bila ditambah dengan TA akhiranya akan berubah menjadi "ita".
  • Sedangkan kata yang berakhiran "gu" bila ditambah dengan TA akhiranya akan berubah menjadi "ida".
Berikut ini adalah bentuk kata kerja yang perubahanya tidak menyimpang seperti kata kerja diatas.

Fungsi penambahan TA pada kata kerja bahasa jepang (Pelajaran 11)

Kata kerja diatas bisa juga ditambahkan kata masu sebelum kata TA agar kalimatnya menjadi lebih halus/hormat. contoh : Ryoko shta menjadi Ryoko shimasshita, mita menjadi mimashita, dll. Dan bila ingin menjadikan kata kerja TA tersebut bentuk negatif, tambahkan nai atau masen. Perhatikan contoh berikut.

  • Mita + nai = Minakatta (negatif tingkat biasa).
  • Mita + masen = Mimasen deshita (negatif tingkat hormat).
  • Yonda/yomimashita + nai = Yomanakatta (negatif tingkat biasa).
  • Yonda/Yomimashita + masen = Yomimasen deshita (negatif tingkat hormat).
Berikut contoh kalimatnya :
  • Watashi wa zasshi wo yomimashita.
  • Watashi wa zasshi wo yonda.
  • Watashi wa zasshi wo yomimasen deshita.
  • Watashi wa zasshi wo yomanakatta.
  • Watashi wa ocha wo nomimashita.
  • Watashi wa ocha wo nonda.
  • Watashi wa ocha wo nomimasen deshita.
  • Watashi wa ocha wo nomanakatta.
Baca selengkapnya

Penambahan kata nai dalam bahasa jepang (Pelajaran 10)

Fungsi penambahan kata nai dalam bahasa jepang - Efek kata nai ini bila digabungkan dengan kata kerja akan menjadikan kata kerja tersebut bentuk negatif. Kata kerja yang digabungkan dengan kata nai ini yaitu kata kerja bentuk ke 3. Pada tutorial belajar bahasa jepang sebelumnya saya sudah contohkan bentuk negatif dari kata kerja, namun tidak menggunakan kata nai melainkan menggunakan kata masen. Cara merubah kata kerja menjadi bentuk negatif dengan menggunakan masen ini menggunakan kata kerja bentuk 2 bukan bentuk ke 3. Jadi, kesimpulanya kalau masu atau masen digabungkan dengan kata kerja bentuk ke 2, sedangkan nai digabungkan dengan kata kerja bentuk ke 3. 

Adapun perbedaan dari penggunaan keduanya yaitu, kata kerja yang digabung dengan kata nai tergolong pada bentuk negatif tingkat biasa. Sedangkan kata kerja yang digabung dengan kata masen tergolong kedalam bentuk negatif tingkat hormat. Perhatikan tabel berikut.


Penambahan kata nai dalam bahasa jepang (Pelajaran 10)

Penambahan kata nai dalam bahasa jepang (Pelajaran 10)

Dari tabel diatas saya rasa sudah sangat jelas sekali perbedaan penggunaan kata nai dan masen tersebut. Sekian saja untuk postingan kali ini. Selamat beraksperimen and good luck.
Baca selengkapnya

Jenis - jenis kata kerja dalam bahasa jepang (Pelajaran 9)

Beberapa jenis kata kerja dalam bahasa jepang - Dalam postingan tutorial belajar bahasa jepang kali ini kita akan bahas mengenai kata kerja dalam bahasa jepang, baik itu dari segi jenisnya, perubahanya, bentuk negatifnya, hingga tingkatan bahasanya. Kata kerja sangat erat hubunganya dengan aktivitas atau bisa diartikan sebuah aktivitas. Berdasarkan akhiranya, kata kerja bahasa jepang dibagi menjadi 4 jenis yaitu kata kerja akhiran U, kata kerja akhiran IRU, kata kerja akhiran ERU, dan kata kerja akhiran SURU. Berikut ulasan lengkapnya.


1. Kata kerja dengan akhiran U.

  • Nomu >> minum.
  • Kau >> membeli.
  • Kaku >> menulis.
  • Hataraku >> bekerja.
  • Iku >> pergi.
  • Yuku >> pergi.
  • Yomu >> membaca.
  • Asobu >> bermain.

2. Kata kerja dengan akhiran IRU.

  • Ochiru >> jatuh.
  • Miru >> melihat.
  • Kiru >> memakai.
  • Okiru >> bangun.
  • Oriru >> turun.
  • Niru >> merebus.

3. Kata kerja dengan akhiran ERU.

  • Oshieru >> mengajar.
  • Kangaeru >> memikir.
  • Shimeru >> menutup.
  • Akeru >> membuka.
  • Tazumeru >> bertanya.
  • Taberu >> makan.

4. Kata kerja dengan akhiran SURU.

Berbeda dengan 3 akhiran diatas yang tidak mempunyai arti, akhiran SURU mempunyai arti melakukan.
  • Setsume suru >> menerangkan.
  • Kitai suru >> menaruh harapan/berharap.
  • Chumon suru >> memesan.
  • Hantai suru >> melakukan perlawanan.
  • Ryoko suru >> melakukan perjalanan.
Pada penerapanya dalam kalimat, kata kerja diatas ada yang mengalami perubahan dan ada yang tetap. Perubahanya hanya terjadi pada akhiranya dengan mengganti atau menambahkan sebuah kata baru. Berikut gambaranya.

a. Perubahan bentuk  kata kerja U.
Jenis - jenis kata kerja dalam bahasa jepang (Pelajaran 9)
Tabel 1.

Jenis - jenis kata kerja dalam bahasa jepang (Pelajaran 9)
Tabel 2.

Dari tabel 1 diatas bisa dilihat bahwa kata kerja bentuk 1 mempunyai akhiran u, bentuk 2 berakhiran i, bentuk 3 berakiran a, dan bentuk 4 berakhiran e. Namun selain perubahan tersebut ada lagi penambahan - penambahan yang dilakukan seperti yang digambarkan tabel 2. Bentuk 2 dari asobu + masu akan menjadikan kata tersebut lebih halus/tingkat hormat. Sedangkan jika ingin menjadikan asobu bentuk negatif, cukup dengan mengambil bentuk ke 2 dari asobu lalu ditambah dengan masen, sehingga menjadi asobimasen. Dengan penambahan tersebut menjadikan asobimasen termasuk kedalam bentuk negatif tingkat hormat.

Contoh dalam kalimat :
Pan >> roti
Kohii >> kopi
  •  Watashi wa pan wo kaimasu. >> Saya membeli roti. 
  • Anata wa nani wo kaimasu ka? >> Kamu membeli apa. 
  • Anata wa kohii wo kaimasu ka? >> Apakah kamu membeli kopi? (terkadang kata anata wa tidak diucapkan)
  • Hai, kohii wo kaimasu. >> Ya, benar.
  • Nani wo nomimasuka? >> Minum apa?
  • Ocha wo nomimasu. >> Minum teh.

Partikel Wo.

Kata wo merupakah sebuah partikel atau kata bantu yang lebih sering tidak diartikan. Partikel wo diatas digunakan untuk menerangkan bahwa objek (orang/benda) di depannya adalah tujuan dari kata kerja yang berada dibelakangnya. Dalam bahasa jepang, suatu kata dikatakan terletak didepan jika kata tersebut berada dibagian sebelah kiri dari kata lainnya. Dan dikatakan terletak dibagian belakang jika kata tersebut berada dibagian sebelah kanan dari kata lainnya. Misalnya "ano hito". ano terletak didepan karena berada dibagian kiri dari kata hito dan kata hito terletak dibelakang karena berada dibagian kanan dari kata ano.

b. Perubahan bentuk  kata kerja IRU.

Jenis - jenis kata kerja dalam bahasa jepang (Pelajaran 9)

c. Perubahan bentuk  kata kerja ERU.

Jenis - jenis kata kerja dalam bahasa jepang (Pelajaran 9)

d. Perubahan bentuk  kata kerja SURU.

Jenis - jenis kata kerja dalam bahasa jepang (Pelajaran 9)

Untuk penambahan kata masu ataupun pembuatan bentuk negatif dari kata akhiran IRU, ERU, dan SURU aturannya sama dengan kata kerja akhiran U. Caranya ambil bentuk keduanya lalu tambahkan dengan masu (untuk bentuk positif) atau tambahkan dengan masen (untuk bentuk negatif). Misalnya :

  • Okiru >> bentuk 2 nya Oki + masu = Okimasu (bentuk positif tingkat hormat).
  • Okiru >> bentuk 2 nya Oki + masen = Okimasen (bentuk negatif tingkat hormat).
  • Taberu >> bentuk 2 nya Tabe + masu = Tabemasu (bentuk positif tingkat hormat).
  • Taberu >> bentuk 2 nya Tabe + masen = Tabemasen (bentuk negatif tingkat hormat).
  • Ryoko suru >> bentuk 2 nya Ryoko shi + masu = Ryoko shimasu (bentuk positif tingkat hormat).
  • Ryoko suru >> bentuk 2 nya Ryoko shi + masen = Ryoko shimasen (bentuk negatif tingkat hormat).
Baca selengkapnya

Penggunaan kata arimasu dan imasu dalam bahasa jepang (Pelajaran 8)

Cara atau aturan penggunaan kata arimasu dan imasu dalam bahasa jepang - Pada postingan sebelumnya saya sudah berikan beberapa contoh kalimat yang menggunakan kata arimasu dan imasu. Namun saya belum jelaskan detil dari dua kata tersebut. Nah pada tutorial belajar bahasa jepang kali ini kita akan kupas lebih dalam mengenai kata arimasu dan imasu. Kata arimasu berasal dari kata "aru" sedangkan imasu berasal dari kata "iru". Pemberian kata masu dimaksudkan untuk memperhalus bahasanya. Arimasu dan imasu sama - sama mempunyai arti "ada/punya". tapi ada sedikit perbedaan pada penerapanya. Kata arimasu digunakan untuk menunjukan keberadaan benda mati seperti kursi, meja, pena, mobil, makanan, dll. Sedangkan kata imasu digunakan untuk menunjukan keberadaan benda hidup seperti hewan dan manusia.

Selain itu kata arimasu dan imasu ini juga mempunyai tingkatan bahasa sama halnya dengan kata desu yang sebelumnya telah kita bahas. Dalam bahasa jepang tingkatan bahasa terbagi atas tiga yaitu tingkat biasa, tingkat hormat, dan tingkat paling hormat. Dalam setiap tingkatnya bentuk arimasu dan imasu akan mengalami perubahan, sesuai dengan tingkatan bahasanya. Berikut tabel tingkatan bahasa dari kata arimasu dan imasu beserta bentuk negatifnya.


Penggunaan kata arimasu dan imasu dalam bahasa jepang (Pelajaran 8)

Tabel diatas menggambarkan perubahan bentuk yang dialami oleh kata arimasu dan imasu dalam setiap tingkatan bahasanya, begitu juga dengan bentuk negatifnya. Berikut penjelasan dari tablel diatas.
  • Aru adalah bentuk positif tingkat biasa dari kata arimasu.
  • Arimasu adalah bentuk positif tingkat hormat dari kata arimasu itu sendiri.
  • Gozaimasu adalah bentuk positif tingkat paling hormat dari kata arimasu.
  • Nai adalah bentuk negatif dari kata aru.
  • Arimasen adalah bentuk negatif dari kata arimasu.
  • Gozaimasen adalah bentuk negatif dari kata gozaimasu.
  • Iru adalah bentuk positif tingkat biasa dari kata imasu.
  • Imasu adalah bentuk positif tingkat hormat dari kata imasu itu sendiri.
  • Orimasu adalah bentuk positif tingkat paling hormat dari kata imasu.
  • Inai adalah bentuk negatif dari kata iru.
  • Imasen adalah bentuk negatif dari kata imasu.
  • Orimasen adalah bentuk negatif dari kata orimasu.
Contoh kalimat :
Anata = kamu.
Kare = dia (laki - laki).
Kanojo = dia (perempuan).
Ringo = apel.
Tomodachi = teman.
Neko = kucing.
Ki = pohon
tori = burung
  • Anata wa jitensha ga aru ka? >> Kamu punya sepeda? atau Apakah kamu punya sepeda?
  • Hai, watashi wa jitensha ga aru. >> Ya, saya punya sepeda.
  • Iie, watashi wa jitensha ga nai. >> Tidak, saya tidak punya sepeda.
  • Kare wa hon ga arimasu ka? >> Apakah dia punya buku? atau Dia punya buku?
  • Hai, kare wa hon ga arimasu. >> Ya, dia punya buku.
  • Iie, kare wa hon ga arimasen. >> Tidak, dia tidak punya buku.
  • Anata wa ringo ga gozaimasu ka? >> Apakah anda punya apel? atau Anda punya apel?
  • Hai, watashi wa ringo ga gozaimasu. >> Ya, saya punya apel.
  • Iie, watashi wa ringo ga gozaimasen. >> Tidak, saya tidak punya apel.
  • Anata no tomodachi wa neko ga iru ka? >> Apakah teman kamu punya kucing? atau Teman kamu punya kucing?
  • Hai, watashi no tomodachi wa neko ga iru. >> Ya, teman saya punya kucing.
  • Iie, watashi no tomodachi wa neko ga inai. >> Tidak, teman saya tidak punya kucing.
  • Ano ki no ue ni tori ga imasu ka? >> Apakah di atas pohon itu ada burung?
  • Hai, ano ki no ue ni tori ga imasu. >> Ya, diatas pohon itu ada burung.
  • Iie, ano ki no ue ni tori ga imasen. >> Tidak, diatas pohon itu tidak ada burung.
  • Ima anata wa kyoto ni orimasu ka? >> Sekarang, apakah anda ada di kyoto?
  • Hai, ima watashi wa kyoto ni orimasu. >> Ya, sekarang saya ada di kyoto.
  • Iie, ima watashi wa kyoto ni orimasen. >> Tidak, sekarang saya tidak ada di kyoto.
Baca selengkapnya
Fungsi kata na dan no dalam bahasa jepang (Pelajaran 7)

Fungsi kata na dan no dalam bahasa jepang (Pelajaran 7)

Fungsi dari kata na dan no dalam bahasa jepang. OK ... masuk ke pelajaran ketujuh dari tutorial belajar bahasa jepang. Topik pembelajaran yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini yaitu penggunaan kata bantu na dan no dalam kalimat bahasa jepang. Kata na dan no merupakan sebuah kata bantu yang berfungsi sebagai penghubung atau menyatakan kepemilikan terhadap suatu objek. Berikut ulasan selengkapnya.


1. Fungsi Kata "Na".

"Na" merupkan sebuah kata yang biasa digunakan untuk menghubungkan dua buah kata atau untuk memberikan keterangan sifat atau keadaan terhadap suatu objek (orang, hewan, atau barang). Kata na sering dijumpai pada kata benda jenis abstrak seperti baka (bodoh), binboo (miskin), shooziki (jujur), rikoo (pandai), kirei (cantik/indah), kenko (sehat), dll. Perhatikan contoh berikut.
  • Binboo na hito. >> orang miskin.
  • Kirei na onna. >> wanita yang cantik
  • Kenko na kodomo. >> anak yang sehat
  • Shooziki na hito. >> orang yang jujur.
  • Rikoo na hito. >> orang yang pandai.
  • Baka na kodomo. >> anak yang bodoh.
Namun jika ingin menerangkan suatu objek dengan menggunakan kata sifat asli seperti okii, yasui, takai, chiisai, dllnya. Maka penggunaan kata "na" tidaklah diperlukan. Kata sifat asli tersebut boleh ditempatkan langsung di depan kata benda (objek) yang diterangkan. Berikut contohnya.
  • Okii uchi. >> rumah besar/rumah yang besar.
  • Takai hikooki. >> pesawat yang mahal.
  • Yasui terebi. >> televisi yang murah.
  • Chiisai heya. >> kamar yang kecil.
Akan tetapi kata sifat asli diatas terkadang juga dikombinasikan dengan kata "na" tersebut. Syaratnya, hilangkan huruf "i" yang terakhir pada kata sifat tersebut. Perhatikan contoh berikut.
  • Oki na uchi. >> rumah besar.
  • Taka na hikooki. >> pesawat yang mahal.
  • Yasu na terebi. >> televisi yang murah.
  • Chisa na heya. >> kamar yang kecil.

2. Fungsi Kata "No".

Kata "no" selain digunakan untuk menyatakan kepemilikan, kata ini juga digunakan untuk merubah kata benda yang konkret seperti kin, gin, tetsu, ki, kami, menjadi bentuk sifat atau menjadikan kata benda yang konkret tersebut sebagai keterangan sifat dari suatu objek. Lihat contoh berikut.
  • Kin no tokei. >> jam emas.
  • Tetsu no fune. >> kapal besi.
  • Ki no teeburu. >> meja kayu.
  • Kami no hana. >> bunga kertas.
Perlu diingat bahwa penggunaan kata benda abstrak, konkret, dan kata sifat asli tersebut berlaku jika hendak memberikan sifat terhadap suatu objek.  Namun jika kata - kata tersebut hanya difungsikan sebagai keterangan dalam suatu kalimat, maka penggunaan "na" dan "no" tidak diperlukan. Berikut contoh kalimat positifnya.
  • Ano kirei onna wa rikoo desu. >> Perempuan cantik itu pandai/pintar.
  • Anata no tokei wa kin desu ka? >> Apakah jam kamu emas?
  • Ano kazoku wa binboo desu ka? >> Apakah keluarga itu miskin?
  • Sono akai hana wa kirei desu. >> Bunga itu indah.
Dan berikut contoh kalimatnya dalam bentuk negatif.
  • Ano kirei onna wa rikoo de wa arimasen. >> Perempuan cantik itu tidak pandai/pintar.
  • Anata no tokei wa kin de wa arimasen. >> Jam kamu tidak emas.
  • Ano kazoku wa binboo de wa arimasen. >> Keluarga itu tidak miskin.
  • Sono akai hana wa kireku aarimasen. >> Bunga merah itu tidak indah.
Sekedar mengingatkan kembali. Jika dalam kalimat negatif tersebut terdapat kata - kata sifat asli yang berakhiran "i" seperti okii, chiisai, yasui, takai, akai, shiroi, dan lainya. Maka gunakan aturan berikut.
  • Untuk membuat kalimat negatif tingkat biasa ganti huruf i yang terakhir dengan ku dan tambahkan nai desu.
  • Untuk membuat kalimat negatif tingkat hormat ganti huruf i yang terakhir dengan ku dan tambahkan arimasen. dan jika kata sifatnya tidak berakhiran i, maka gunakan de wa arimasen.
  • Dan untuk membuat kalimat negatif tingkat paling hormat, caranya sama dengan cara pembuatan kalimat positif sebelumnya, kecuali bagian akhirnya seperti gozaimasu atau de gozaimasu berubah menjadi gozaimasen atau de gozaimasen.
Berikut contohnya :

Atsui >> panas.
  • Nobita san no heya wa atsuku nai desu. >> Kamar tuan Nobita tidak panas. (negatif tingkat biasa)
  • Nobita san nn heya wa atsuku arimassen. >> Kamar tuan Nobita tidak panas. (negatif tingkat hormat)
  • Nobita san no heya wa atsu gozaimasen. >> Kamar tuan Nobita tidak panas. (negatif tingkat paling hormat) 
Takai >> mahal.
  • Ano kin no tokei wa takaku nai desu. >> Jam emas itu tidak mahal. (negatif tingkat biasa)
  • Ano kin no tokei wa takaku arimasen. >> Jam emas itu tidak mahal. (negatif tingkat hormat)
  • Ano kin no tokei wa takaku gozaimasen. >> Jam emas itu tidak mahal. (negatif tingkat paling hormat)
Dalam bahasa tulis bentuk de wa arimasen tidak dipakai, penggunaanya digantikan oleh ja nai atau de wa nai. Perhatikan contoh dibawah ini.
  • Ano okii uchi wa  Nobita san no ja nai / de wa nai. Rumah besar itu bukan punya tuan nobita.
  • Ano hikooki wa Nippon no ja nai / de wa nai. Pesawat terbang itu bukan punya jepang.
  • Ano fune wa tetsu de wa nai / ja nai. Kapal itu bukan besi.
Baca selengkapnya